SENIN UP 57 WADUMBOLO YANG TERTIB

Kota Bima,
Budaya SENIN UP 57 Wadumbolo yaitu Senin upacara, pada upacara kali ini yang bertindak sebagai Pembina
upacara adalah PLH pak Supriyadi,S.Pd.,Gr. Karena Kepala sekolah masih
melanjutkan berobat diluar kota. Dalam
amanat upacara kali ini beliu menyampaikan tiga poin penting yang selalu ditanamkan
kepada peserta didik sebagai penguatan karakter pada peserta didik.
Yang pertama
beliau memberikan apresiasi kepada kelas yang telah menjadi petugas upacara
kali ini, karena menjadi petugas upacara atau menjadi wakil apapun bagi sekolah
merupakan anak-anak yang terpilih dan peserta harus bangga dan berlomba-lomba
dalam hal itu bukan malah takut untuk tampil ujar beliau, kemudian yang kedua
adalah tentang kedisiplinan, peserta didik diharapkan agar selalu meningkatkan dan terus menjaga
kedisiplinan dalam sekolah, yaitu disiplin datang kesekolah, disiplin menjaga
kebersihan kelas dan lingkungan sekolah, disiplin belajar, disiplin dalam
istirahat dan disiplin juga saat pulang sekolah. Dan poin terahir yang tak
kalah penting yang beliu sampaikan adalah agar peserta didik tidak melakukan bullying
atau perundungan terhadap teman-temannya karena kita ini adalah saudara 57
Wadumbolo ujarnya, yang sering terjadi kata beliau adalah saling ejek mengejek kalua
dalam Bahasa Bimanya adalah “Mpa’a Kabanca angi” dan ini sering berahir dengan
bullying dalam bentuk perkelahian , dan mengahiri amanatnya beliau berdoa
semoga semua siswa 57 Wadumbolo menjadi anak-anak yang sukses dunia dan akhirat.
Setelah rangkaian
SENIN UP sudah dilaksanakan semua maka seperti biasanya ditutup dengan budaya SALIM
dengan bapak ibu guru, ini sekaligus untuk mengajarkan dan menanamkan kepada peserta
didik untuk selalu bersyukur atas apa yang mereka dapati selama berada
dilingkungan sekolah kepada Allah subhanahu wata’ala Tuhan Yang Maha Esa, dan
ini juga sebagai perwujudan penghormatan dan sebagai rasa terima kasih kepada
bapak ibu guru disekolah yang telah memberikan curahan ilmu pengetahuan dan pengganti
orang tua dirumah, “ karena tidaklah dikatakan seseorang itu bersyukur kepada
Allah ta’ala sebelum dia berterimakasih kepada manusia yang telah berbuat baik
kepadanya”. (syARS, 2023)